Rabu, 07 November 2012

INVESTOR KHAWATIR KEPASTIAN HUKUM KONTRAK MIGAS

Jakarta - Isu ketidakpastian hukum di sektor minyak dan gas bumi kini mencuat lagi. Perbedaan pemaknaan mengenai PSC (production sharing contract) sebagai basis pelaksanaan investasi telah menimbulkan kekhawatiran tersebut.

Pakar Migas Abdul Muin mengemukakan sistem PSCatau kontrak bagi hasil selama ini cukup efektif dalam menjamin keberlangsungan pengelolan sumber daya alam minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

“Jika ada persoalan yang timbul dalam pelaksanaan PSColeh kontraktor, penyelesaiannya cukup melalul jalur perdata yang didahului dengan audit lembaga berwenang,” ujarnya dalam satu diskusi Rabu (7/11).

Dalam sistem PSC, ujarnya, sesuai UU No. 22/2001, regulasi itu cukup jelas memberikan kewenangan kepada Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) sebagai pihak yang mewakili pemenntah berkontrak dengan investor migas dengan peran sebagal mitra, mengamankan bagian pemerintah, mengawasi jalannya operasi serta mengatasi hambatan yang muncul di lapangan.

Bahkan, tambah Muin yang juga mantan Wakil Kepala BP Migas, pernah melakukan pemeriksaan terhadap PoD (plan of development) dan satu kontraktor.

“Ketika ada yang janggal, langsung dikonfirmasikan dan dikiarifikasi kepada kontraktor. Saya pernah melakukan audit terhadap kelebihan pembayaran cost recovery. Mereka akhirnya mengakui dan mengembalikannya.”

Kasus yang Disorot
Salah satu kasus yang disorot dan menimbulkan kepastian berusaha di sektor migas adalah penyidikan yang dilakukan Kejaksaan Agung terhadap proyek bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia.

Saya cukup terkejut dan prihatin adanya kasus itu. Persoalan itu cukup diselesaikan melalui audit oleh BP Migas, atau maksimal di bawa ke ranah perdata,.”

Sernentara itu Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Dipnala Tamzil juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kasus bioremediasi Chevron. Secara makro, ujamya, perlakuan terhadap kasus bioremediasi Chevron ini akan membawa image buruk terhadap kepastian hukum berinvestasi di Indonesia.

“Mungkin bukan sekarang, tetapi di waktu yang akan datang, investor migas yang akan masuk akan raguragu melihat situasi di Indonesia. Adanya kasus itu menjadi preseden yang buruk bagi dunia migas.”

Sebagai wujud munculnya ketidakpastian dan keresahannya dalam berusaha di sektor migas terutama berkaitan dengan kasus Bioremediasi, Chevron Pacific Indonesia disebutsebut telah mengirimkan surat kepada Menteri ESDM, Menteri Koordinator Perekonomian, Menko Polhukham, dan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembarigunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto.

Pengajuan surat ke pemerintah dibenarkan oleh Vice President Policy, Government & Public Relation Chevron Yanto Sianipar. “Kami sudah menyampaikan suratke pemerintah, agar persoalan bioremediasi mi diselesaikan secara perdata. Tanggapan pemerintah cukup positif. Karena memang persoalan mi bukan berada di ranah pidana, melainkan perdata sebagaimana layaknya PSC.”

Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas Hadi Prasetyo mengakui, berbagai ketidakpastian hukum yang terjadi di sektor migas telah menghambat kinerja sektor penyumbang terbesar penerimaan negara itu.

Indikasi itu bisa terlihat dan realisasi produksi yang hanya mencapai 870.000 barel per hari dan target APBN 2012 sebesar 930.000 barel per hari.

Yanto menambahkan selama 80 tahun Chevron beroperasi di Indonesia; baru saat ini kegiatan operasinya berbuah kasus pidana, dengan tuduhan korupsi.

Padahal proyek bioremediasi yang dituding Kejaksaan Agung merugikan negara itu sudah berlangsung lama, sudah sukses merehabilitasi lingkungan, dan sama sekali tidak dibiayai oleh anggaran negara.”

Yanto sendiri tidak ingin banyak menanggapi kemungkinan adanya motif-motif tertentu, terkait masuknya Kejaksaan Agung memeriksa proyek Bioremediasi Chevron. (Sumber: Bisnis Indonesia)

CHEVRON INVESTASI US$30 MILIAR DI INDONESIA DALAM 10 TAHUN

Jakarta - PT Chevron Pacific Indonesia telah mengeluarkan investasi sebesar US$ 30 Miliar selama 10 tahun untuk dapat meningkatkan produksi minyak Indonesia. Investasi tersebut digunakan perusahaan untuk  penambahan sumur produksi, peningkatan pemakaian teknologi yang lebih maju dan lain-lain.

Demikian disampaikan VP Policy Government and Public Affairs Chevron, Yanto Sianipar pada acara Focus Group Discusion Kepastian Hukum dan Pengaruhnya Terhadap Investasi di Sektor Migas yang diselenggarakan oleh Energy and Mining Editor Society di Jakarta, Rabu (7/11).

"Selama 10 tahun terakhir kita sudah keluarkan investasi sebesar US$ 30 Miliar. Hasilnya 44% produksi minyak nasional disumbangkan dari kita," kata Yanto.

Lebih lanjut Yanto mengatakan, investasi sebesar US$ 30 Miliar tersebut lebih banyak digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan pengeboran sumur. "Pengeboran sumur tahun ini kita lakukan dua kali lipat dari tahun sebelumnya," katanya.

Akhir Oktober lalu, Chevron mulai mengembangkan lapangan minyak di Duri Utara atau North Duri Development (NDD) Area 13 di Riau. Proyek senilai US$ 500 Juta tersebut diproyeksikan akan mampu menambah produksi minyak sebesar 17.000 barel per hari dan akan menambah 539 sumur baru. (*)

Selasa, 06 November 2012

TIGA CARA HATTA TINGKATKAN SEKTOR MIGAS

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar -0,09 persen. Alasannya karena belum adanya ekspansi sumur minyak baru di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, ada 3 cara untuk melakukan ekspansi di sektor pertambangan khususnya minyak dan gas. Hal pertama menurut Hatta ialah penjelasan masalah cost recovery.


"Saya minta duduk bersama lagi untuk cost recovery. Dan investasi di hulu dikembangkan, eksplorasi terutama. Tidak boleh ada beban-beban awal, pajak dan sebagainya. Karena itu belum tentu modal kembali," ungkap Hatta saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jl Lapangan Banteng, Selasa (6/11/12).


Hatta melanjutkan, hal kedua yang harus dilakukan adalah dengan mengatasi masalah perizinan lapangan minyak. Menurutnya banyak lapangan-lapangan minyak yang bermasalah dengan perizinan.


"Banyak lapangan kita terhambat perizinan. Banyak lapangan minyak kita perlu di-recovery teknologinya. Perlu kita kembangkan pada splitnya," lanjutnya.


Poin terkahir, Hatta mengatakan pembangunan pipanisasi harus diselesaikan dan harus diperlancar, pasalnya ini berpengaruh pada pertumbuhan sektor migas itu sendiri.


"Ketiga, itu dihilirnya, misalkan mandeknya migas. Pipanisasi lambatnya membangun depo-depo. Ini berkaitan dengan pertumbuhan sektor migas," cetusnya.


Seperti diketahui sebelumnya, Di tengah semua sektor yang mengalami pertumbuhan, sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar -0,09 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beberapa alasan yang menyebabkan hanya sektor ini yang mengalami kontraksi pada kuartal III tahun ini.

Kepala BPS Suryamin menyebutkan salah satu alasan terjadinya kontraksi pertumbuhan untuk sektor pertambangan adalah belum adanya ekspansi sumur minyak baru di Indonesia. Hal ini karena adanya tumpang tindih lahan dan sulitnya perizinan pembukaan tambang baru. (Sumber: Detik.com)

FSRU JATENG DIHARAPKAN SELESAI 2014

Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Legowo mengatakan saat ini pihaknya tengah menyelesaikan perhitungan volume gas LNG yang dibutuhkan floating strorage and regasification unit (FSRU) laut utara Jawa Tengah.

Kepastian proyek FSRU Jawa Tengah menunggu kepastian adanya kebutuhan dan pasokan gas yang cukup. Saat ini pemerintah sedang menghitung alokasi pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang bisa dikirim ke FSRU Jawa Tengah. Pasokan gas akan berasal dari Kilang LNG Tangguh.

Dalam waktu dekat, perhitungannya akan segera tuntas. "Sedikit lagi selesai perhitungannya," ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Selasa (6/11).

Dia menargetkan penghitungan kebutuhan gas alam cair bagi FSRU Jateng akan tuntas bulan ini. Setelah itu, Pertamina sebagai pengelola akan membangun infrastruktur FSRU tersebut. "Kami berharap FSRU bisa beroperasi sesuai target yakni akhir 2014," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto menegaskan Pertamina sanggup untuk meneruskan proyek yang telah dihentikan ini."Kami minta kejelasan mengenai pasokan gas untuk FSRU ini. Kalau pemerintah sudah memerintahkan melanjutkan, seharusnya mereka menyiapkan gasnya. Toh, gas nya juga ada," ujarnya

Dia menegaskan paling tidak untuk pasokan bisa mengandalkan dari pasar domestik atau impor LNG. Namun, untuk impor akan terkendala harga gas di pasar internasional yang cukup tinggi dibanding harga domestik. "Kecuali kalau pembeli domestik sudah siap, kita juga siap," katanya.

Sebelum dihentikan, Pertamina mengklaim sudah mulai melakukan pembebasan tanah. Perseroan telah mengucurkan dana Rp 80 miliar dari total nilai investasi proyek USD 400 juta yang seluruhnya dibiayai dari dana internal perseroan. (Sumber: Merdeka.com)

NEGOSIASI GAS TANGGUH ALOT

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menyatakan, proses renegosiasi kontrak penjualan gas Tangguh berlangsung alot. Renegosiasi itu diperlukan untuk meningkatkan penerimaan negara dan meningkatkan alokasi gas untuk domestik.

Hal ini disampaikan Jero Wacik, dalam jumpa pers, Selasa (6/11/2012), di Jakarta. Jero menjelaskan, proyek pengembangan gas Tangguh yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, berawal dari penemuan gas di lokasi itu pada tahun 1990. Kemudian gas mulai diproduksi pada tahun 2006. Kontrak penjualan gas Tangguh dimulai pada tahun 2002.


Saat itu hasil gas blok itu 100 persen diekspor, yaitu 50 persen di antaranya untuk Fujian di China, Jepang dan Korea, sedangkan 50 persen sisanya diekspor ke Sempra, perusahaan energi asal Amerika Serikat. "Jadi tidak ada alokasi gas Tangguh untuk domestik," ujarnya.


Diakui, pada tahun 2002, Indonesia belum membutuhkan gas, dan harga gas murah. Jadi harga gas Tangguh yang diekspor 2,4 dollar AS per juta british thermal unit.

Kemudian pada tahun 2006 kontrak penjualan gas Tangguh ke Fujian direnegosiasi sehingga naik menjadi 3,35 dollar AS per MMBTU.

Saat ini, kebutuhan gas di pasar dunia, khususnya Indonesia, meningkat. Sekarang harga gas di dalam negeri 6-10 dollar AS per MMBTU, sedangkan harga gas ekspor 16-20 dollar AS per MMBTU.

"Gas dibutuhkan untuk industri, listrik, rumah tangga, kendaraan," ujarnya.

Terkait hal itu, pihaknya menyampaikan kepada BP, operator Kilang Tangguh, mengenai keinginan pemerintah untuk melaksanakan renegosiasi kontrak penjualan gas Tangguh. Pada awalnya, pihak BP keberatan atas rencana pemerintah merenegosiasi kontrak gas untuk train 1 dan 2 Tangguh dengan alasan hal itu sudah terikat kontrak.


Setelah dibahas lebih lanjut, akhirnya disepakati, train 1 dan train 2 Tangguh eks Sempra bisa diambil untuk domestik. Semula BP akan mengalokasikan gas Tangguh 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).


"Saya bilang kurang, masak hanya segitu, akhirnya alokasi gas bisa naik 250 MMSCFD. Jadi total dia akan berikan 20 kargo train 1 dan 2, dari yang tadinya nol," kata dia.


Terkait harga gas ke Fujian yang dinilai terlalu rendah, Jero Wacik menegaskan, harga gas Tangguh harus direnegosiasikan. "Kami akan memberangkatkan tim ke China untuk merenegosiasikan harga gas Tangguh," ujarnya. (Sumber: Kompas.com)

Senin, 05 November 2012

CADANGAN TERBUKTI GAS BLOK MAHAKAM HABIS 2017

Bontang - Kontrak pengelolaan Total E&P Indonesie ladang gas di Blok Mahakam, Kalimantan Timur, akan berakhir pada 2017, dengan berakhirnya kontrak tersebut juga akan diikuti habisnya sisa cadangan gas terbukti (P1) sebesar 4,8 TCF pada 2017.

Hal tersebut seperti diungkapkan Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde Pradyana, sisa cadangan gas terbukti di Blok Mahakam saat ini tersisa 4,8 TCF, dengan produksi 1.600 MMSCFD per hari maka cadangan tersebut akan habis pada 2017 seiring berakhirnya kontrak Total di Blok Mahakam.

"Cadangan gas terbukti (P1) di Blok Mahakam saat ini hanya tersisa 4,8 TCF, dengan produksi saat ini sekitar 1.600-1.700 MMSCFD atau 1,7 TCF per tahun, maka seluruhnya akan habis pada 2017 seiring berakhirnya kontrak Total di Mahakam," kada Gde dipertemuan dengan Komisi VII DPR di Hotel Sintuk, Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (6/11/2012).

Dikatakan Gde, namun potensi gas (P2) yang terkandung di Blok Mahakam diperkirakan masih ada sekitar 6,5 TCF, namun untuk menjadikan P2 menjadi P1 tentu tidak mudah, dibutuhkan usaha keras dan investasi yang sangat besar.

"jika ingin menjadikan P2 sekitar 6,5 TCF ke P1 di Blok tersebut butuh usaha yang keras dan investasi yang sangat besar, apalagi dengan kondisinya saat ini terjadi penurunan produksi alami mencapai 15% per tahun," ungkap Gde.

Bahkan diungkapkan Gde, untuk produksi 1,7 TCF per tahun atau dengan produksi 1.600 MMSCFD Total harus mengeluarkan kocek mencapai US$ 2,2 miliar.

"Untuk terus produksi dan mengurangi penurunan produksi gas disetiap sumur gas yang secara alami terus turun bahkan jika tidak melakukan eksplorasi baru dan usaha lainnya produksi gas di Mahakam bisa turun 50% per tahun, untuk produksi 1,7 TCF per tahun saja, Total dan Inpex harus mengelarkan biaya investasi US$ 2,2 miliar per tahun, sangat besar," tandas Gde. (Sumber: detik.com)

Formula Harga Gas Tangguh Dirumuskan

Jakarta - Sebanyak 40 persen dan hasil produksi gas proyek pengembangan tahap dua Tangguh, yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, akan dialokasikän untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, terutama untuk pembangkit listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara. Untuk itu, pemerintah sedang merumuskan formula harga gas dan lapangan gas tersebut.

Menurut Deputi Perencanaan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Widhyawan Prawiraatmadja, Senin (5/11), di Jakarta, 40 persen dan hasil produksi gas dan Train 3 Tangguh yang direncanakan mulai berproduksi pada tahun 2018 akan dialokasikan untuk memenuhi.kebutuhan domestik, Sedangkan 60 persen akan diekspor.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementarian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita U Legowo menyatakan, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Susio Bambang Yudhoyono ke Inggris pekan lalu, beberapa hal telah disepakati terkait dengan rencana pengembangan tahap dua (POD-2) Train (unit) 3 Tangguh, antara lain alokasi dan harga gas. ‘POD-2 Tangguh diharapkan ditandatangani akhir November nanti,” ujarnya.

Dan proyek itu, pemerintah berniat mengalokasikan gas dan Train 3 Tangguh itu sebanyak 24 kargo per tahun untuk pembangkit listrik PT PLN. Pemerintah juga akan mengalokasikan Sebagian hasil gas, balk dan pengalihan pasokan gas dan Train 1 dan Train 2 yang semula untuk Sempra ke pembeli lain maupun dari Train 3 untuk konsumen domestik lain, yakni industri.

Terkait dengan pasokan gas Train 1 dan 2 Tangguh yang dialibkan dan Sempra. perusahaan energi asal Amerika Serikat, ke pembeli lain, Widhyawan menjelaskan, pemerintah masih menghitung kebutuhan gas untuk PLN dan konsumen domestik lain.

Harga PLN
Pasokan gas untuk domestik itu sejalan dengan ketersediaan infrastruktur gas, misalnya pengoperasian terminal penerima gas Arun, Lhokseumawe, dan Jawa Tengah. Karena itu, kontrak penjualan gas hasil pengalihan dan Sempra itu bukan jangka menengah dan panjang.
Selain itu, menurut Evita, saat mi pemerintah merumuskan formula harga gas Tangguh yang dihasilkan Train 3 dan pengalihan pasokan gas yang semula untuk Sempra. apakah memakai formula ICP (harga rata-rata minyak mentah Indonesia) atau Japan Cocktail Crude (JCC).

“Kemungkinan formula hanganya 11-13 persen dan ICP/JCC. Inilebih rendah dan kesepakatan harga gas Tangguh antara BP dan PLN yang berkisar 11-14 persen dan ICP/JCC,” ujarnya.
 
Pemerintah menilai harga gas Tangguh yang disepakati antara PLN selaku pengguna gas dan BP selaku operator Kilang Tangguh terlalu tinggi untuk pasar domestik. Oleh karena itu, pemerintah kemungkinan akan menetapkan formula harga gas yang berbeda atau lebih rendah untuk konsumen gas lain, terutama untuk industri sehingga mendorong daya saing industri nasional. (Sumber: Kompas)